Wakil Ketua Komisi IV DPR RI: Pancasila Ruh Utama NKRI

  • Whatsapp

JAKARTA – Wakil Komisi IV DPR RI Anggi Erma Rini, memaknai ‘Hari Pancasila’ bukan hanya sekedar dasar negara tetapi ruh utama tegaknya ibu pertiwi dalam bingkai NKRI.

“Pancasila bukan hanya dasar negara, pilar berbangsa, atau sumber dari segala sumber hukum,” kata Anggi Erma Rini kepada Santrinews.com Selasa, 1 Juni 2021.

Muat Lebih

Menurut politisi PKB ini, Pancasila sebagai falsafah hidup dalam berbangsa dan bernegara, telah teruji kesaktiannya berkali-kali, dengan beragam peristiwa. Sejak awal kemerdekaan hingga saat ini.

Sebab, kata Anggi, sejak Pemberontakan PKI Madiun, Kartosuwiryo, DI/TII, Republik Maluku Selatan (RMS), PRRI dan Permesta, G30SPKI, Organisasi Papua Merdeka (OPM), Gerakan Aceh Merdeka (GAM), HTI, dan banyak lagi aneka rongrongan baik secara internal maupun eksternal.

“Meskipun beragam suku, bangsa, bahasa, agama, adat-istiadat, dll, sepantasnya kita bersyukur bangsa ini kokoh karena disatukan Pancasila,” ungkapnya.

“Mari jaga, rawat, dan amalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, dari hal terkecil, sederhana, dan praktik-praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Ketua Umum PP Fatayat NU ini juga menegaskan pentingnya menanamkan pancasila dimulai dari lingkungan keluarga. Di keluarga, factor perempuan cukup penting dan strategis melakukan peran ini.

“Inilah salah satu relevansi serta titik temu perempuan dan Pancasila di era yang makin terbuka dan tanpa batas (borderless) seperti sekarang,” tandasnya.

Lebih lanjut, Anggi meminta perempuan harus kuat, mafhum, cerdas, dan kreatif mendoktrinkan Pancasila sesuai budaya lokal dan metode ajar ala keluarga.

“Saat ini, mengajarkan Pancasila dan nilai-nilai kebangsaan kita kepada anak, sama pentingnya dengan belajar mengaji Alquran dan ilmu-ilmu agama,” ulasnya.

Pancasila bukan semata ilmu umum; Pancasila juga tergolong ilmu agama karena memuat kandungan ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan.

Hal-hal itu mutlak menjadi ajaran agama dan butuh kontekstualisasi contoh dalam praktek sehari-hari. Sekali lagi, perempuan (selain laki-laki) sangat penting untuk paham dan responsif dalam memainkan perannya. (rus)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *