Uwais Al-Qarni Penghuni Langit

  • Whatsapp
Ilustrasi. (Santrinews.com/net)

Uwais Al-Qarni adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Tanpa seorang ayah dan sanak famili. Ia hanya hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba orang lain. Upah yang diterimanya cukup untuk keseharian dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Muat Lebih

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibu dan taat beribadah. Uwais Al-Qarni sering kali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah.

Alangkah sedih hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah.

Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh, juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal itu dilakukan sebagai ungkapan rasa cinta kepada Nabi Muhammmad Saw. Meski ia belum pernah bertemu dengan beliau.

Hari demi hari berlalu. Kerinduan Uwais kepada Nabi Muhammad Saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah Nabi Muhammad Saw.

Rindunya sudah tak dapat ditahan lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan meninta ijin agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah.

Ibu Uwais Al-Qarni merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Ia segera berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan. Uwais juga meminta bantuan tetangganya untuk menemani ibunya selama ia pergi.

Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai di kota Madinah. Ia segera mencari rumah Nabi Muhammad Saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan kekasihnya yang ingin dijumpai. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran.

Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi Muhammad Saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi Nabi tidak dapat dijumpainya.

Hati Uwais Al-Qarni bergolak, perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi Ia terngiang dengan pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Uwais juga diminta cepat pulang ke Yaman oleh Ibunya.

Sebab ketaatan kepada sang ibu, Uwais mengurungkan keinginan hati dan rindunnya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi. Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera kembali ke Yaman. Dia hanya menitipkan salam untuk Nabi Muhammad Saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi Muhammad Saw bertanya kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Siti Aisyah ra, menerangkan perhal kedatangan dan kepulangan Uwais. “Memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama”.

Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni. “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi Muhammad Saw memandang kepada Ali bin Abi Thalib ra dan Umar bin Khattan ra seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi Muhammad Saw kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra.

Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari. Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi ini dan mengulurkan tangannya untuk berselaman.

Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do’a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do’a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafat

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik.

“Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.” Ucapnya kepada Umar.

*(Penulis merupakan Mustasyar PCNU Sumenep dan Pengasuh Pesantren Mathlabul Ulum Jambu, Kecamatan Lenteng.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar