Terilhami dari Kisah Nabi, Gagasan Ra Mamak Melahirkan Organisasi Satarètanan

  • Whatsapp

SUMENEP – Organisasi Satarètanan merupakan buah pikiran atau gagasan KH Moh Shalahuddin Warits –akrab disapa Ra Mamak– yang dikonsep pada 2014. Mulai menjadi gerakan sosial sejak 9 September 2019. Semula gerakannya dikonsep dengan Filantropi Produktif.

Ra Mamak tidak menyangka gagasannya akan menjadi gerakan nyata. Berangkat dari respon baik santri alumni Pondok Pesantren Annuqayah, gagasannya tersebut mulai bergerak dengan membantu dhuafa dan anak yatim. Dari situ lahir gerakan Filantropis Produktif.

Muat Lebih

Gerakan Filantropi Produktif menekankan kepada pembangunan sosial, penguatan ekonomi anggota dan masyarakat umum.

Anggota Satarètanan foto bersama anak yatim usai acara pertemuan bulanan sekaligus santunan. (Santrinews.com/bahri)

“Jadi arti produktif itu misal kami memberikan beras atau hasil tani dari ladang kita sendiri. Yang kami berikan juga dibeli dari petani langsung, kemudian dibagikan. Secara tidak langsung kami juga mencoba meningkatkan produktifitas perekonomian petani,” jelasnya kepada Santrinews pada Ahad, 27 Desember 2020.

Pada 2020, gerakan Satarètanan mulai mengalami sedikit perubahan. Istilah yang semula Filantropi Produktif menjadi Gerakan Politik Sipil guna membangun Civil Society.

Menurut Ra Mamak, Politik Sipil adalah gerakan pengembangan masyarakat dari berbagai sektor. Tidak hanya fokus pada kesenjangan sosial. Satarètanan juga akan fokus pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Hal itu yang membedakan anatara politik elektoral dan politik sipil.

“Politik elektoral fokus membangun negara sedangkan politik sipil fokus membangun orangnya (bangsa),” ujarnya.

Ia mengaku, Gerakan Satarètanan semula lahir dan terilhami dari politik Nabi Muhammad Saw saat membangun masyarakat Makkah. Peradaban Islam, sambungnya, besar bukan sebab politik kekuasaan melainkan sebab membanguna masyarakat madani.

“Nabi itu tidak pernah membangun negara, tapi orangnya dulu. Ketika orangnya membangun negara ya itu bagian dari peradaban selanjutnya,” urainya.

Ra Mamak menegaskan, Satarètanan dengan tagline Longtolongan (red. Saling membanu) nyata gerakan politik yang tidak bersinggungan dengan partai politik. “Yang kita bangun masyakatnya, bukan negaranya,” katanya.

Berdasarkan hal itu, anggota Satarètanan bukan hanya alumni santri Annuqayah. Semua lapisan masyarakat bisa masuk. “Dengan begini juga akan lebih luas,” tukasnya.

Ketua Eksekutif Satarètanan Ajimuddin menjelaskan, pihaknya dalam dua tahun terakhir sudah melakukan berbagai hal. Mulai dari santunan dhuafa hingga penguatan ekonomi anggota. Yakni membangun jejaring bisnis dengan mengeksplor khazanah lokal. Misal makanan.

Adapun biaya dari berbagai kegiatan yang sudah dilakukan merupakan hasil iuran anggota dan sumbangan dari beberapa donatur. “Kan juga ada orang yang memiliki keinginan berbagai tapi belum bisa turun seperti kita,” katanya.

Kini Satarètanan terus berbenah mengembangkan diri. Menurut Ajimuddin, pihaknya sedang mengupayakan Kantor Satarètanan segera berdiri. “InsyaAllah 2021 awal bulan sudah ada,” ujarnya.

Ia menerangkan, Satarètanan merupakan organisasi baru yang juga sudah memiliki AD/ART. Kendati demikian ia tidak menapik masih ada hal perlu diperbaiki. “Administrasi kita harus tingkatkan karena transparansi itu penting,” pungkasnya.

Ia juga berharap, Satarètanan bisa semakin besar menjadi wadah gerakan sosial dan kelak bisa menjadi Yayasan Sosial.

Satarètanan telah memiliki agenda rutin mingguan dan bulanan. Berpindah antar kecamatan dan desa. Semisal acara kali ini yang bertempat di Desa Beluk Raja Kecamatan Ambunten. Pertemua bulanan sambil diselengi santunan anak yatim. (ari)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *