Prospek Pertanian Sumenep

  • Whatsapp

Oleh : Ajimuddin El-Kayani*

Kabupaten Sumenep dengan luas sekitar 2.093,458 Km², menjadi Kabupaten terbesar di Madura bahkan cakupan wilayahnya lebih luas dari pulau Madura itu sendiri. Luas daratan ditambah dengan luas perairan sekira 50.000 km², maka total luas teritorial Sumenep adalah 52.093.458 km². Ini cukup fantastis untuk sebuah gagasan Minapolitan Sumenep yang berdaya dan maju dengan pengembangan kawasan pertanian, agropolitan, pariwisata, Kelautan dan industri terbarukan yang terintegrasi dan berkualitas tinggi agar Sumenep mampu menjadi tujuan dan pusat peradaban yang nyaman dan asri.

Muat Lebih

Luas lahan pertanian di Kabupaten Sumenep mencapai 143.022 hektare. Jumlah ini terbagi ke dalam dua kategori yaitu sawah selebar 25.681 dan ladang seluas 117.341 hektare, (Habe Hajat, dispertapahortbun Sumenep, radarmadura, 19-02-2018). Jika ini mampu diolah dan dikembangkan seperti di Desa Bedinding Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo yang dalam satu hektar lahan rerata  bisa menghasilkan 12 ton, bahkan 14 sampai 16 ton (Fb. Gubernur Jawa Timur, Selasa 06-04-2021), akan lebih menjamin peningkatan dan penguatan ekonomi masyarakat serta ketahanan wilayah daripada tergiur menghadirkan penambang yang hampir pasti akan merusak alam kita.

Pemerintah Sumenep pernah mencanangkan Pertanian Berkelanjutan, melalui Perda No. 2 tahun 2018. Ini arah yang cukup memberi harapan bagi banyak kalangan. Fakta kepemilikan lahan pertanian terluas se Madura ini juga melahirkan banyak simpati, bahkan pihak luar Negeri berbaik hati ingin terlibat aktif memajukan sektor ini. Mungkin mereka sudah bisa memprediksi bahwa ketahanan hidup umat manusia pada akhirnya bergantung pada ketahanan pangan yang hanya ada di dunia pertanian.

Sumenep merupakan 1 dari 14 Kabupaten se Indonesia yang mendapatkan upland project pertanian yang didanai oleh IFAD (Internasional Fund for Agricultural Development) yang akan direalisasikan pada tahun 2021. Program ini dalam rangka pengembangan sistem pertanian terpadu di daerah dataran tinggi yang mencakup produktivitas, pendapatan petani dengan meningkatkan infrastruktur lahan dan air dengan sistem modern hingga soal penanganan pasca panen (liputan 6 : 14 September 2019).

Rancangan besar di atas bukan sekedar illusi pertanian-perkebunan. Karena alam kita mendukung, lahan yang luas dan sumber daya alam yang melimpah begitu nyata adanya. Sangat realistis jika kita mengklaim akan mampu membangun ketahanan pangan dan memproyeksikan Sumenep sebagai salah satu lumbung pangan Nasional. Tinggal political will dan intervensi pemerintah untuk menyediakan SDM dan mendorong mereka berfikir kontekstual yang kreatif dalam memaksimalkan potensi SDA yang ada. Karena dari 334 Des/Kelurahan memiliki potensi alam yang spesifik. Misalnya, soal perkebunan di bidang kelapa. Sumenep adalah pemasok kelapa terbesar di Jawa Timur, namun apakah kita (masyarakat petaninya) berdaya dari sektor ini? Belum tentu. Maka wajar jika muncul kesimpulan bahwa berkebun kelapa adalah pekerjaan sampingan dan rakyat kita lebih memilih jadi TKI/TKW.

Mensinergikan aneka potensi, tentu saja tidak mudah mewujudkannya, tantangan akan datang dari luar dan internal Sumenep itu sendiri. Heterogenitas budaya dan profesi masyarakat dengan berbagai kepentingan pendorongnya akan menyulitkan. Butuh kesepemahaman dan kesepakatan bersama bahwa Sumenep yang asri, berdaya dan maju adalah masa depan segala generasi. Pengelolaan dan perawatan atas lahan dan lingkungan secara memadai juga andal agar alam serta masyarakat Sumenep tetap di jalur yang berkelanjutan adalah kewajiban bersama kita.

Tantangan Dunia Pertanian

Keterlanjuran kita dalam sistem kelas telah menjerumuskan cara pandang banyak kalangan. Padahal jika ditanya apakah kita penganut sistem kelas yang merupakan kritik pedas dari bapak komunisme (Karl Marx) atas sistem social kapitalis, jawabnya pasti, tidak. Tetapi kita terbiasa memandang dan membenarkan bahwa ada kelas petani, pengusaha, pegawai, guru dan seterusnya, kemudian masing-masing saling merasa lebih unggul dari lainnya. Sehingga, mereka yang menguasai sarana iklan selalu memberikan tampilan terbaik dalam rangka menghegemoni supaya dianggap lebih bergengsi. Dan otomatis kaum petani, pekebun dan nelayan selalu terpinggirkan yang kemudian, profesi di sektor ini seolah tidak penting (dianggap kelas rendahan) bahkan anak petani tidak bersedia lagi jadi petani. Sungguh ini merupakan penjajahan alam fikir yang dahsyat dan tentu saja perlu diubah agar masyarakat kita mempunyai motivasi untuk menjadi petani, pekebun dan atau nelayan.

Selain ujian berupa perkembangan dan perubahan mindset masyarakat dan pemerintah, alam fikir kita masih sangat terkooptasi oleh kalimat sakti bahwa kekayaan alam adalah dikuasai oleh Negara untuk dimanfaatkan seluas-luasnya demi kemakmurkan rakyatnya. Sebuah diksi kenegaraan yang mudah dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu dengan mengabaikan kepentingan lainnya. Hal ini juga didukung oleh aturan dan UU yang diciptakan atau mungkin dipesan oleh oknum tertentu agar alam dan lingkungan kita dapat dieksploitasi tanpa perduli urusan lingkungan dan keberlanjutan ekosistem dan kehidupan lainnya. Peluang ini cukup seru dimainkan belakang ini. Yaitu masuknya perusahaan pertambangan ke Sumenep yang ditopang oleh perubahan UU no. 4 tahun 2009 ke UU no. 3 tahun 2020. Madura apalagi Sumenep terlalu sempit untuk dijadikan area pertambangan batu-fosfat dan tanah urug, sebab sistem recoverynya membutuhkan waktu yang sangat panjang, bisa sekian generasi. Memang pertambangan itu sah adanya. Namun yang menjadi ganjalan adalah dampak negatifnya pada pertanian penduduk maupun pertanian komersial sangat besar, belum lagi dampak lingkungan yang berpengaruh atas ketahanan hidup masyarakatnya.

Sekedar mengingatkan diri sendiri dan kita semua warga Sumenep, bahwa sekitar 437,39 Ha atau 21,02%. berupa kawasan perbukitan dan 1,48% (30,75 Ha)  berupa pegunungan. Berarti 22,50% dari luas wilayah Sumenep, disebut gunung (bukit) oleh masyarakat Sumenep. Namun belum ditemukan referensi apakah dataran tinggi atau kawasan perbukitan dimaksud termasuk area Karst (area batu gamping yang banyak fosfat) ataukah tidak. Jika 22,50% (dataran tinggi kita) tersebut adalah area tendon air yang kemudian masuk menjadi wilayah pertambangan maka pengaruhnya akan nyata bagi masa depan pertanian kita. Ketersediaan air pada akhirnya akan memicu timbulnya konflik sosial di luar konflik lainnya seperti soal lahan dan tanah.

Dari sekian tantangan yang ada dan mungkin bertambah, kita masih layak optimistis atas masa depan pertanian, perkebunan dan kelautan kita. Syaratnya tidak terlalu banyak, cukup adanya kebijakan yang kompatibel, modal, infrastruktur, teknologi (termask teknologi instalasi pengering ultraviolet : UV) dan pasar. Dunia pertanian ini adalah wilayah yang dikomandani oleh pemerintah lewat dinas terkait, walaupun pada dasarnya, tanpa itu semua masyarakat petani, pekebun dan nelayan kita akan tetap bekerja pada tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Dan terbukti dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat kita semakin kreatif dalam bertani meski di sektor tanaman padi misalnya, mereka mulai diciptakan ketergantungan baru yaitu ketersediaan bibit atau benih. Sebab gabah hasil panin hari ini tidak bisa disemai ulang menjadi bibit. Di era 1990an, hasil panen masyarakat bisa disimpan untuk dijadikan bibit pada musim tanam berikutnya. Di sinilah petani membutuhkan intervensi pengetahuan supaya masyarakat awam mampu menjadikan produknya sebagai penyambung dari satu masa tanam ke masa tanam berikutnya, yang dengan demikian kita perlu membantu agar kelak, masyarakat bisa memiliki kemandirian benih.

Sumenep merupakan Kabupaten yang telah melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi dalam dunia pertanian dan ini perlu dimassifkan perkembangannya, baik kwantitas maupun kwalitasnya agar segera mampu menjadi daerah asuh bagi wilayah terdekat supaya apa yang menjadi capaian suatu desa yang memiliki sektor pertanian lebih maju dapat ditiru dan dimodifikasi untuk daerah lainnya. Sehingga harapan hidup masyarakat dari dunia pertanian semakin menemukan titik terangnya. Dan kita percaya bahwa menjaga pertanian Sumenep untuk tetap di jalur yang benar sama halnya dengan menjaga dan melestarikan lingkungan serta kehidupan masyarakatnya demi Sumenep yang nyaman, berdaya dan maju.

*Penulis merupakan petani sekaligus Pengamat Dunia Pertanian asal Kabupaten Sumenep. Penulis juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial.



Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *