Petani Padi di Rubaru Gagal Panen, Disinyalir Sebab Kualitas Benih

  • Whatsapp
Sampel hasil padi yang ditanam oleh Petani Desa Basoka dengan memakai merek yang dinilai buruk. (Santrinews.com/bahri)

SUMENEP – Petani di Desa Basoka Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep tengah mengeluh terhadap hasil tani padinya sendiri. Sebagian besar di antara mereka telah gagal panen di musim penghujan kali ini.

Kegagalan panen tersebut belum diketahui secara pasti. Kendati demikian, petani di sana curiga, kegagalan penennya disebabkan oleh benih padi yang dibeli oleh mereka sendiri.

Muat Lebih

Moh Rais meniup bulir padi yang dipetik dari tangkainya. Dia hendak membuktikan bahwa bulir padinya hanya berbuah gabah, tidak berisi biji beras. (Santrinews.com/bahri)

Ketua Kelompok Tani Suka Maju (salah satu kelompok tani Desa Basoka) Moh Rais mengatakan, hampir 60 persen petani di desa tersebut gagal panen lantaran memakai merek benih padi yang sama. “Sedangkan yang pakai bibit lain hasil taninya bagus,” ujarnya kepada Santrinews saat ditemui di Dusun Lenteng Desa Basoka pada Senin, 1 Maret 2021.

Rais mewakili petani yang lain menjelaskan, tanaman padi mereka rusak tidak mungkin disebabkan oleh faktor alam ataupun hama. Pasalnya, ada petakan sawah yang ditanami padi dengan memakai dua merek benih padi. Salah satunya memakai merek benih yang dinilai jadi penyebab petani gagal panen. Penanamannya pun dibikin separuh-separuh. Separuh pakai merek benih lain, separuh pakai bibit yang dianggap jelek.

“Curah hujan musim ini sangat bagus untuk tanaman padi. Terus kalau memang disebabkan karena perawatan, itu ada yang separuh padinya rusak tapi separuhnya lagi bagus. Harusnya kalau memang sebab faktor alam atau perawatan kan rusak semua, bukan separuh-separuh,” jelasnya.

Menurut Rais, mayoritas petani di desanya memaki merek benih padi yang tenagah dikeluhkan tersebut. Ia mengaku, benih tersebut sudah pernah dipakai oleh petani di sana pada musim penghujan tahun lalu. Namun, sambungnya, kali ini benih tersebut tidak menghasilkan kualitas padi seperti musim sebelumnya.

Pada musim lalu, dengan memakai benih tersebut bisa menghasilkan padi dua kali lipat. Hal tersebut yang membuat petani di Desa Basoka berbondong-bondong berebut membeli benih padi tersebut dengan harga Rp. 89 ribu per kilo gram.

“Beda dengan tahun sekarang. Padinya hanya berbuah gabah, tidak ada bijinya. Biasanya saya dapat 18 karung padi, sekarang hanya 6 karung dan ketika sudah dibersihkan hanya jadi dua karung, itu kualitas padinya hancur ketika sudah digiling,” terangnya.

Rais merupakan orang yang beruntung dibanding petani yang lain. Hasil tanaman padi petani lain dengan merek benih tersebut banyak dijadikan pakan ternak. Sebagian lain ada yang dibiarkan di tengah sawah. “Panen kali ini gagal total,” tegas Rais.

Dari pengakuan Rais, benih tersebut dibeli lewat suplayer yang langsung datang ke desanya. “Entah dari toko mana tidak tahu. Datang langsung ke masyarakat. Tapi bibit ini juga tersedia di Pasar Rubaru, ada yang jual pakai mobil,” tuturnya.

Rais berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep mendengar dan sigap terhadap keluhan mereka. Pemerintah diharapakan lebih ketat lagi dalam melakukan pengawasan terhadap pasokan bahan yang dibutuhkan oleh petani.

“Dinas-dinas terkait sangat diharap bisa melakukan pengawasan terutama di pembibitan. Juga mengenai pupuk yang tahun ini langka. Sangat sulit untuk mendapatkan pupuk,” katanya.

Kasus gagal panen di atas, sebenarnya tidak hanya melanda petani Desa Basoka. Isu yang berkembang di tengah masyarakat juga tengah menjadi keluhan petani di desa lain yang ada di Kecamatan Rubaru. (ari)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *