Inspiratif, Aktifis PMII UIM Pamekasan Nikmati Jualan Kopi

  • Whatsapp

PAMEKASAN – Kisah inspiratif datang dari pemuda Jamaluddin. Saat ini ia sebagai mahasiswa aktif di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan. Seraya kuliah, tanpa rasa malu ia berprofesi berjualan kopi.

Hal ini karena adanya bencana non alam pandemi Covid-19 tidak patah arang untuk meraih segala impiannya.

Muat Lebih

Jamaluddin lahir dari keluarga yang sederhanan namun spirit berjuang untuk menyelesaikan kuliahnya patut diajungi jempol.

Ia juga aktif diorganisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Komisariat UIM.

Jualan kopi keliling bagi Jamal bukan perkerjaan yang merisihkan tetapi ini bagian cara agar dirinya bisa bertahan hidup di Kota Gerbang Salam.

Saat ini masih semester I Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian UIM Pamekasan.

“Malu Mas, minta sama orang tua. Sementara saya hanya berpangku tangan,” ujarnya memulai cerita.

Profesi orang tuanya adalah sebagai buruh tani tidak membuat rasa malu justru tambah semangat berjuang. Sebab, lewat merekalah ia mulai paham akan arti kehidupan. Lewat mereka pula, ia bertekad mengukir harapan.

“Bapak dan ibu adalah pahlawan saya Mas, lewat mereka saya paham arti perjuangan. Meski keduanya hanya buruh tani,” ucap pria asal Desa Lepelle ini.

Meski hujan menerpa ia tetap berkeliling jualan kopi. Yang ada dalam benaknya hanyalah usaha menjemput asa.

“Keliling, dari satu tempat ke tempat lain, ketuk pintu pindah lagi. Intinya nawarin kopi Mas,” simpulnya disertai senyum.

Saat ditanya ihwal pun juga inisiatif jualan kopi keliling, ia mengaku, jika tak ada keberhasilan tanpa tekad dan usaha yang nyata meski harus lewat pinjam untuk modal awal. kopi baginya memiliki makna mendalam antara pahitnya hidup dan manisnya perjuangan.

“Untuk modal awal, saya pinjam ke teman sebesar 200 ribu. Karena saat kesini (kuliah,red) saya tidak punya uang sebesar itu,” tegasnya.

Meski harus berjibaku dengan jualan kopi keliling, ia juga tercatat aktif di salah satu organisasi ekstra kampus. “Alhamdulillah saya juga tergabung di PMII,” katanya.

Sehabis jualan keliling di seputaran kota, ia kembali menjajakan dagangannya ke beberapa sahabat di kampusnya. Baginya tak ada istilah gengsi dan malu.

“Saya juga menawarkan kopi ke teman-teman di PMII dan yang lain,” imbuhnya.

Jamal mengaku, meski telah jualan kopi keliling, ia belum bisa melunasi hutang kepada temannya. “Penghasilan yang saya dapatkan setiap hari tidak menentu, jadi omset belum bisa melunasi hutang kepada teman saya,” akunya.

Meski demikian, ia selalu menyisihkan hasil jualannya untuk disimpan. Ia berharap hutangnya akan cepat lunas.

“Saya berharap, tidak hanya saya yang memiliki kemauan seperti ini. Tapi semua mahasiswa harus mandiri dan menghilangkan rasa gengsinya agar tidak selalu merepotkan orang tua,” harapnya.

Tekad dan perjuangan Jamal mendapat respon dari Ketua Komisariat PMII UIM Pamekasan, Aliwafa.

Nakhoda organisasi berlambang bintang sembilan dengan kubah terbalik ini mengaku malu dan prihatin. Sebab, di tengah hegemoni kapitalisme ternyata masih ada mahasiswa yang tidak malu jualan kopi keliling hanya untuk mengais pundi rupiah sebesar 3 ribu per gelas.

“Ketika seharian Jamal berjualan dan manawarkan pada teman-teman organisasi PMII, dia datang dengan kondisi basah kuyup karena kehujanan,” ucapnya.

“Saat saya tanya ke jamal, apakah punya jas hujan? dia mengaku tidak punya. Sementara dia berpikir kopinya akan laris di saat musim hujan seperti sekarang ini,” paparnya.

Sebagai rasa syukur, Wafa meminta Jamal datang ke komisariat setiap pagi membawakan tiga gelas kopi. Sebab hanya itulah yang bisa dikerjakan.

“Karena saya pikir, tiga gelas kopi tidak terlalu mahal, karena pergelas harganya cuma Rp 3 ribu,” pungkasnya. (rus)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *