HIPMI Sumenep Jalin MoU dengan Rutan Kembangkan Batik Tulis Karya Napi

  • Whatsapp
KREATIF: Salah satu pengrajin batik tulis binaan Catra Buana Rutan Kelas II B Sumenep sedang melakukan prosesi pewarnaan batik. (Santrinews.com/Banhri).

SUMENEP – Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sumenep melakukan kerjasama pengembangan produk narapidana (Napi) binaan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Sumenep.

Kerjasama tersebut ditandai dengan Penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) antara BPC HIMPI Sumenep dengan Kepala Rutan Kelas II B Sumenep tentang “Kerjasama Pengembangan Produk Warga Binaan Pemasyarakatan Rutan Sumenep” pada Sabtu, 3 April 2021.

Muat Lebih

Penandatanganan Mou tersebut turut disaksikan oleh Perwakilan Kakanwil Kemenkumham Jawa Timur Hanabi dan Wakil Bupati Sumenep Nyai Dewi Khalifah.

Napi binaan Rutan Sumenep dibekali beberapa keterampilan. Yang paling Nampak adalah kerajinan souvenir olahan kertas dan kerajinan membantik.

Achmad Yunus mengatakan, pihaknya akan membantu promosi dan menjual produk kerajninan yang dihasilkan oleh para napi. “Semua akan kami upayakan yang bisa bersifat ekonomis, kebetulan untuk saat ini kita masih fokus terhadap produk batik tulis karya Napi,” katanya kepada Santrinews usai acara seremonial MoU.

Yunus Menjelaskan, langkah pertama untuk memasarkan produk para Napi yakni dengan meningkatkan kualitas produk. Hal itu dikatakan sangat penting untuk menembus persaingan pasar yang cukup ketat.

“Misal masih kualitas kurang, HIPMI akan bantu beri traning peningkatan produk, memberikan alat bantu produksi, misal itu,” jelasnya.

SERAGAM HIPMI: Baju Batik Tulis karya Napi Binaan Rutan Kelas II B Sumenep dipakai oleh MC saat acara penandatanganan MoU. (Santrinews.com/bahri)

Sedangkan untuk pemasaran produk, Yunus mengatakan telah melakukan survei pasar dan menjalin kerjasama dengan pihak ketiga yang bisa menjual produk batik karya Napi Rutan Sumenep. “Kita nanti pasarkan ke jaringan HIPMI mulai dari Jawa Timur bahkan hingga Nasional,” ujarnya.

Menurut Yunus, kerjasama tersebut memiliki dua manfaat. Pertama sebagai upaya memberi bekal Napi menjadi pelaku usaha ketika sudah keluar. Kedua, sebagai media untuk memperkenalkan ragam batik tulis khas Sumenep di kanca Nasional.

Ia menegaskan, kerumitan motif batik juga menjadi penentuk harga jual sebuah batik. Kendati demikian, hal itu belum disadari oleh pengrajin batik di Rutan Sumenep. “Ini yang juga yang nanti perlu diberi tahu bahwa karya seni itu mahal,” tegasnya.

Pengrajin batik tulis itu berada dalam binaan Catra Buana Batik di bawah naungan Rutan Sumenep. Catra Buanas sendiri baru dibentuk baru beberapa bulan yang lalu sebagai wadah khusus kerajinan membatik para Napi.

“Kalau kerajinan membantiknya sudah berlangsung sekitar 5 tahun yang lalu,” kata Kepala Rutan Sumenep Viverdi Anggoro.

Viverdi menjelaskan, Napi binaannya selama ini hanya membuat bahan (kain) untuk baju saja. Dengan kerjasama tersebut, sambungnya, Napi akan dibina untuk memproduksi baju batik. “Kami juga sudah mulai sedikan mesin jahit dan pembinanya,” urainya.

Menurut Viverdi, karya batik binaan Catra Buana akan segera didaftarkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual guna mendapatkan hak cipta, Paten Catra Buana Batik. “Inilah sebuah langkah dengan adanya kerjasama dengan HIMPI. Mereka yang lebih paham dunia usaha,” urainya.

Rutan Sumenep sendiri telah ditetapkan sebagai Rutan sentra kerajinan batik di antara Rutan lain di Indonesia. “Rutan lain ada sentra kuliner dan segala macam lainnya,” kata Viverdi.

Warga Rutan Sumenep dikatakan Viverdi, 80 persen tersangkut kasus narkoba dan mayoritas umurnya masih muda. “Yang ikut kerajinan membantik ada 18 orang,” katanya.

Viverdi berharap, semua Napi Rutan Sumenep bisa menjadi warga yang produktif dan mampu berwirasusah dengan baik ketika sudah bebas dari tahanan,“ dengan bekal itu semoga mereka tidak terpengaruh oleh stigma negatif masyarakat ketika keluar nanti,” pungkasnya. (ari)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar