Eksistensi Pelajar dan Santri di Tengah Pandemi

  • Whatsapp

Oleh : Izzah Afadha*

Dalam situasi krisis pandemi seperti ini, segala aspek kehidupan khususnya interaksi komunikasi antar sesama telah bergeser pada titik awal, yang awalnya segalanya dapat dilakukan secara lancar tanpa hambatan, namun adanya kondisi krisis pandemi seperti ini menuntut kita untuk mampu beradaptasi dengan apa yang terjadi. Begitu halnya dengan proses belajar mengajar dan juga aktivitas seorang pelajar maupun santri harus tetap berjalan di kondisi saat ini.

Muat Lebih

Hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi eksistensi pelajar dan santri. Seiring dengan berkembangnya zaman, segala sesuatu yang kita pikir secara rasional tidak akan pernah terjadi namun saat ini terjadi, segala sesuatu juga terjadi secara semakin kompleks. Zaman dahulu para pendahulu kita khususnya para ulama’ berjuang dalam perang menghadapi penjajah kolonial, saat ini di masa kita tidak lagi berjuang melawan penjajah, melainkan berjuang melawan penjajah peradaban. Artinya, seorang pelajar dan santri saat ini dihadapkan pada tantangan-tantangan yang ditimbulkan oleh kehidupan perubahan modernitas salah satunya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (human resource).

Ditengah kondisi saat ini, sebuah proses pendidikan telah jelas menyodorkan problematika kepada pelajar dan santri, kemudian mendorongnya untuk berolah pikir bagaimana mampu bertahan dan menyelesaikan masalah saat ini. Di momentum seperti inilah saatnya seorang pelajar dan santri harus benar-benar kembali ke jati dirinya, untuk terus belajar dan mencari alternatif agar tetap mampu menerima ilmu dan berbagai ilmu di kondisi yang serba terbatas ini. Pelajar dan santri hendaknya tak hanya mempunyai integritas keilmuan yang memadai, tapi juga integritas moral dan etika yang tinggi, yang akan menjadi faktor penting ketika seorang pelajar dan santri hidup ke lingkungan sosialnya seperti saat ini. Pelajar dan santri harus siap dihadapkan oleh adanya perubahan zaman serta tantangan di setiap zamannya.

Sehingga jika seorang pelajar dan santri tidak mampu untuk beradaptasi dan memberi respon yang tepat, maka eksistensi pelajar dan santri kemungkinan akan hilang dan akar-akarnya yang ada dalam masyarakat akan tercabut dengan sendirinya. Khususnya seorang santri, yang mana masalahnya sekarang adalah bagaimana santri dapat mampu menelaah dan memahami teks ajaran agama sesuai dengan konteks dan kondisi saat ini. Perlunya pemberian pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi (secular education) kepada santri tanpa meninggalkan kaidah keagamaan yang ada.

Saatnya Pelajar dan Santri Dakwah bil Medsos

  Perkembangan zaman kian cepat, kita sudah lama memasuki revolusi industri keempat, jika pelajar dan santri hanya terus berdiam, maka dunia dan peradaban akan membungkam. Perkembangan moda teknologi semakin kesini semakin bekembang semakin pesat, hingga memnuntut semua pihak untuk ikut berubah menyesuaikan perkembangan yang ada, siapa yang lamban, maka akan tergusur. Saat ini yang perlu kita catat bahwa manusia pada hakikatnya tetap sama tidak berubah, tetap memiliki akal pikiran. Akal pikiran itulah yang sudah disiapkan oleh Allah menjadi potensi manusia untuk mampu beradaptasi dalam berbagai kondisi perubahan, termasuk menghadapi efek perkembangan sains dan teknologi seperti halnya yang saat ini terjadi di masa krisis pandemi.

 Saat ini hampir setiap pelajar bahkan santri telah mampu memiliki dan bahkan menggenggam dunia, tak lain dan tak bukan adalah HP atau ponsel. Pelajar dan santri sekarang bisa dengan mudah menyampaikan dan menerima informasi dari manapun dan kapanpun, bersamaan dengan dunia digital dan internet yang sudah menjadi santapan sehari-hari mereka, hingga mampu menjadi pengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Seiring dengan  kecenderungan tersebut, maka hendaknya pelajar santri dapat memanfaatkan hal itu dengan baik dan positif, pelajar dan santri harus mampu menerima ilmu dan menyebarkan ilmu melalui media digital.

Pelajar dan santri diharapkan mampu meningkatkan daya critical thinking dalam belajar. Ilmu yang dimiliki oleh seorang pelajar dan santri jangan disimpan sendiri, namun harus tetap disebarkan ke khalayak umum menjadi sebuah pembelajaran bersama. Sehingga seorang pelajar dan santri mampu menjadi penyejuk dalam menyebarkan ilmu dan pengetahuan, dengan memberikan informasi serta inspirasi baik ilmu agama maupun yang lainnya melalui media digital dengan baik dan benar.

(* Pengurus PW IPPNU Jawa Timur, Mahasiswa Universitas Airlangga

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *