Diluncurkan di Hari Santri, ACT Jatim Salurkan Beras ke Pesantren

  • Whatsapp

Sidoarjo – Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jawa Timur menyalurkan beras sebanyak satu ton dalam program ‘Beras untuk Santri Indonesia’ (Berisi) untuk memenuhi pangan santri di Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah, Sidoarjo, Jawa Timur.

Kepala Cabang ACT Jatim Wahyu Sulistianto Putro mengatakan program Berisi merupakan hasil insiasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk memenuhi kebutuhan pangan santri.

Muat Lebih

“Program ini diluncurkan oleh Aksi Cepat Tanggap saat peringatan Hari Santri Nasional,” kata Wahu usai menyerahkan bantuan beras, Sabtu, 26 Oktober 2019.

Ia menjelaskan, untuk kali ini disalurkan satu ton beras untuk Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah.

“Pondok ini berjasa mencetak ulama-ulama besar, seperti KH Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Wahyu menjelaskan, beras yang disumbangkan ini juga beras terbaik yang berasal dari petani lokal, sebagai upaya ACT untuk memberdayakan petani.

“Program Berisi rencananya juga akan kami salurkan ke beberapa pesantren di Jawa Timur,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah KH M Hasyim Fahrurozi mengatakan Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah yang didirikan pada 1787 M merupakan pondok pesantren yang menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia.

“Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah yang didirikan sejak abad ke-18 di Sidoarjo ini telah banyak melahirkan ulama-ulama besar Indonesia,” ujarnya.

Pesantren ini telah banyak melahirkan ulama-ulama besar seperti KH M Hasyim Asy’ari, KH As’ad Samsul Arifin, KH Ridwan Abdullah pencipta lambang Nahdlatul Ulama, KH Alwi Abdul Aziz, KH Wahid Hasyim, KH Cholil, KH Nasir (Bangkalan), KH Wahab Hasbullah, KH Umar (Jember), KH Usman Al Ishaqi, KH Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), dan KH Dimyati (Banten).

Selain banyak melahirkan ulama besar, pesantren yang terletak di desa Siwalan Panji Buduran Sidoarjo itu terbilang pesantren tertua di Jawa Timur setelah pesantren Sidogiri Pasuruan.

Pesantren ini didirikan oleh KH Hamdani itu sampai sekarang masih menjadi catatan sejarah bagi bangsa ini.

“Salah satu ulama besar yang pernah menuntut ilmu agama atau menjadi santri di pesantren ini yakni KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. KH Hasyim Asy’ari menjadi santri di Pesantren Al-Hamdaniyah ini sekitar lima tahun lamanya,” katanya.

Untuk mengenangnya, hingga saat ini kamar yang pernah dihuni KH Hasyim Asy’ari masih tetap terawat seperti dahulu.

“Kamar KH Hasyim Asy’ari ini sengaja tidak pernah dipugar, tetap seperti dahulu agar menjadi pelajaran bagi santri bahwa untuk menjadi tokoh besar tak harus dengan fasilitas mewah,” kata Gus Hasyim.

Sekarang ada sebanyak 200 santri menetap dan belajar di pondok ini. Mereka diajarkan ilmu agama dan kemandirian. Santri makan 2 kali sehari dengan masak sendiri. Mereka membagi jadwal masak antar santri sehingga tercipta kebersamaan. (red/rus)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *