Di Pulau Ini, Gadis Cantik Dipercaya Tak Bisa Nikah dan Umurnya Pendek

  • Whatsapp

SUMENEP – Dikisahkan, Pada abad ke-13 Raja Lembu Iyang melakukan pengembaraan ke Pulau Sapudi menaiki sekor kerbau. Ia mengeliling pulau itu hingga akhirnya sampai di Desa Gendang (nama desa saat ini).

Di desa itu, kerbau Lembu Iyang tiba-tiba berjalan tanpa perintah. Sang tuan mengikuti langkah kerbaunya, ternyata si kerbau membawa tuannya ke kediaman Ju’ Renjani di Bukit Ro-Korok atau kini dikenal sebutan Palanggeran.

Muat Lebih

Singkat cerita, sang raja menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya kepada Ju’renjani. Lembu Iyang bertutur bahwa dirinya hendak ingin bertemu dan meminang perempuan tercantik yang berada di Palanggeran. Wanita itu bernama Dewi Ayu Sarimbi.

Lembu Iyang akhirnya bertemu dengan Dewi Ayu Sarimbi. Sang Raja langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi tidak dengan Dewi Ayu Sarimbi.

Lembu Iyang merayu sang dewi untuk menaklukan hatinya. Tapi usaha sang raja sia-sia. Rayuannya tak mampu meluluhkan hati Dewi Ayu Sarimbi. Cinta sang raja ditolak.

Raja Lembu Iyang belum putus asa menaklukan hati Dewi Ayu Sarimbi untuk dijadikan permaisuri. Ia pulang ke keraton dan meminta bantua kerabatnya. Ia mencari jalan untuk mewujudkan keinginannya.

Singkat cerita, Lembu Iyang bersama kerabatnya kembali datang menemui Dewi Ayu Sarimbi. Rombongan sang raja membawa peralatan musik gamelan berharap hati sang dewi dapat ditaklukan dengan harmoni musik itu.

Sayang, hiburan gamelan tetap tidak bisa menaklukan hati sang putri. Penolakan berulang Dewi Ayu Sarimbi membuat Raja Lembu Iyang murka. Ia kemudian mengutuk Dewi Ayu Sarimbi menjadi penjaga gamelan yang kekal. Selain itu, Dewi Ayu juga dikutuk tidak bisa menikah hingga akhir hayatnya.


Kisah di atas diceritakan oleh Soeharto warga Dusun Toggung, Desa Pancor, Kecamatan Gayam mengenai asal-muasal keberadaan 12 Batu yang menyerupai seperangkat alat gamelan.

“Itu juga sudah diceritakan secara turun-temurun di sini,” ucapnya kepada Santrinews.com saat ditemui di rumahnya pada, Senin 28 September 2020.

Menurut Soeharto, penyebab pinangan Raja Iyang ditolak dimungkinkan karena perbedaan agama. Dewi Ayu Sarimbi beragama Islam sedangkan sang raja beragama Hindu.

Ia menjelaskan, masyakat sering mendengar bunyi gamelan dan gong tiap Kamis Malam Kliwon di lokasi 12 Batu Gong. Namun, sambungnya, ketika wilayah itu mulai ramai bunyi misterius itu jarang terdengar.

“Bahkan setahun silam, batu gong sudah tidak terdengar lagi,” ucapnya.

Ia mengaskan, dari kisah di atas masyarakat juga memiliki keyakinan, bahwa bila ada gadis terlahir dengan paras cantik di Desa Tonggung maka tidak akan mendapat jodoh dan umur hidupnya dipercaya pendek.

“Sesuatu yang seperti ini terkenal mistis dan sangat dipercaya oleh masyarakat Toggung,” pungkasnya. (qq/ari)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *