Daya Ledak Gerindra Jawa Timur

  • Whatsapp
Plt DPD Partai Gerindar Jawa Timur, Anwar Sadad, M.Ag. (Istimewa)

Oleh: Hambali Rasidi*

Gerindra Jawa Timur beberapa hari terakhir menjadi perbincangan hangat di antara pengamat dan pegiat politik nasional.

Muat Lebih

Perbincangan itu seperti ada ledakan. Sehingga menyita perhatian publik.

Penyebabnya, bukan karena pernyataan Sekjend DPP Gerindra, H Ahmad Muzani yang membocorkan hasil survei-nya bahwa Jawa Timur bakal jadi basis suara Gerindra.

Lebih dari itu. Pernyataan politik Pak Sekjend disampaikan di tengah kekosongan kursi Ketua DPD Gerindra Jatim setelah ditinggal almarhum Soepriyatno.

Sehingga muncul multi tafsir politik. Kenapa?

Seperti kita tahu, Jawa Timur sudah lama dikenal dengan istilah hijau-merah sebagai basis politik warganya.

Lalu, tanpa angin dan hujan. Tiba-tiba hendak disulap menjadi kekuatan baru Gerindra dan Prabowo Subianto dalam Pemilu 2024.

Bisa jadi, para pegiat dan pengamat politik menilai ucapan Pak Sekjend Muzani sebatas motivator politik. Sehingga para kader Gerindra Jawa Timur bersemangat menyambut Pemilu 2024 yang akan memilih anggota legislatif dan presiden.

Dalam kamus politik. Pernyataan Muzani hal yang lumrah. Apalagi dia sebagai Sekjend DPP Gerindra. Konsolidasi antar kader dan memberi semangat para kader untuk memenangkan partai sebuah kewajibannya.

Tapi, kenapa kenapa publik termasuk banyak media mainstream seakan mengamini pernyataan Pak Sekjend Muzani?

Saya melihat beberapa hal. Pertama, Partai Gerindra secara rasional bisa besar karena kekuatan struktur kapital partai.

Sudah jamak bahwa sistem politik Indonesia-meski tanpa terus terang- telah menganut kapital liberal. Melalui raihan suara terbanyak di setiap event pemilu-menuntun para kompetitor mengeluarkan banyak cost politik. Syarat dan rukun cost politik itu telah dimiliki Partai Gerindra.

Kedua, sosok Plt Ketua DPD Gerindra, H Anwar Sadad.

Barangkali publik tak menduga jika Anwar Sadad itu masih ada aliran nasab dengan pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, KH Ahmad Nawawi Abdul Jalil.

Anwar Sadad lahir di lingkungan Ponpes Sidogiro. Sejak kecil menimba ilmu di pesantren Sidogiri. Setelah dewasa-baru kuliah di IAIN (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Selain bertali nasab dengan Ponpes Sidogiri. Anwar Sadad juga jadi mantu kiai berpengaruh di Jember, KH Muzakki.

Dengan begitu. Aliran darah dan kepribadian yang ditempa di pesantren yang memiliki ratusan ribu alumni di Jawa Timur-tanpa disadari telah melahirkan sel-sel politik.

Ketiga, jaringan kultur melalui jaringan alumni Sidogiri dan NU tentu bikin nyaman langkah politik Anwar Sadad apabila menahkodai Gerindra Jawa Timur.

Potensi ini bisa mengunci atau setidaknya mengimbangi jaringan politik PKB sebagai partai yang berbasis santri.

Keempat, progres Gerindra Jawa Timur saat Pilkada 2020 menjadi pintu untuk menata kekuatan baru menghadapi pemilu 2024.

Dari 19 daerah di Jawa Timur yang menggelar Pilkada 2020. Sebanyak 12 kepala daerah yang diusung Gerindra menjadi pemenang Pilkada 2020.

Sementara, PKB sebagai peraih suara kedua di Jawa Timur saat pemilu 2019, hanya satu kader murni menjadi pemenang Pilkada 2020.

Apabila para kepala daerah itu masuk di struktur Gerindra di tingkat cabang. Syukur-syukur menjadi Ketua Cabang Gerindra. Tentu ini menjadi harapan baru bagi kebangkitan Gerindra Jawa Timur.

Komposisi partai di tingkat DPD (wilayah) seperti melliki warna khas.

Meski Ketua DPD Gerindra Jawa Timur belum definitif. Setidaknya, pola manajemen partai yang dilakukan Plt Ketua DPD Gerindra Jawa Timur seperti banyak meniru resep kesuksesan PKB Jawa Timur di awal reformasi 1999-2024.

Maklum, Anwar Sadad secara defakto menjadi Sekretaris DPW PKB Jawa Timur, periode 2002-2007. Karena keseharian ia yang menghandel soal kesekretarian DPW. Meski hasil Musywil PKB di Tuban akhir 2001 Anwar Sadad menjadi Wakil Sekretaris DPW PKB Jawa Timur dengan Ketua DPW PKB Jawa Timur Choirul Anam.

Selain empat faktor di atas, Kepiawaian Anwar Sadad yang dibantu orang-orang di sekitarnya tentu akan melahirkan daya ledak politik baru dalam membesarkan Gerindra Jawa Timur.

Benarkah?

Lihat saja di Pemilu 2024.

*Penulis tinggal di Madura

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *