Catatan Pers Sumenep: Korona dan Manipulasi Data

  • Whatsapp
Bupati Achmad Fauzi (tengah) saat sidak Kantor Dinas Kesehatan Sumenep pada Senin pertama pasca lebaran 2021. (Santrinews.com/bahri)

Oleh: Wartawan Sumenep*

Saya rasa catatan ini akan sangat panjang. Tak kalah panjang dan menjemukannya seperti pandemi Covid 19 ini. Usul saya, saat anda punya waktu untuk membaca catatan remeh ini, bersandinglah dengan camilan atau minuman kesukaan yang sudah lunas dibayar.

Muat Lebih

Saya tidak menyarankan camilan yang anda siapkan adalah hasil ngutang. Khawatir saja, catatan ini menjadi ruwet seperti saat anda ditagih untuk membayar hutang. Tolonglah. Tapi ini hanya usul, bukan saran.

Sejak beberapa hari lalu, pemberitaan pandemi Covid 19 di Kab. Sumenep naik signifikan. Dalam catatan saya, yang secara langsung terlibat peliputan di lapangan, virus korona di Sumenep kembali mencuat setelah 17 warga dinyatakan positif. Dinas Kesehatan membenarkan itu.

Tidak lama, 5 tenaga kesehatan (nakes) dinyatakan positif. Empat dirawat intensif dan satu melakukan isolasi mandiri. Informasi ini, hampir bersamaan dengan ditutupnya pelayanan kantor BPJS Kesehatan Kabupaten Sumenep. Orang nomor satu di kantor itu dinyatakan positif. Dia melakukan isolasi mandiri.

Sebelum itu, Dinkes mengklaim sudah sembilan pekan tidak ada temuan kasus baru korona. Hitungan kasarnya adalah, sejak pertengahan Maret hingga pertengahan Mei, virus korona di Sumenep sudah tidak berani menampakkan batang hidungnya.

Mungkin saja virus itu percaya bahwa warga Sumenep, seperti yang disampaikan ibu Gubernur Jawa Timur, memang sakti-sakti. Atau, mungkin saja secara sepihak mereka “ditiadakan”. Soal itu biarlaj publik yang memberi kesan.

Dalam peliputan kawan-kawan wartawan di lapangan, data yang diterima masih terjadi silih kelindan. Satu dan instansi lain masih sering berbeda atau terkesan “nempel” data belaka. Misalnya, Dinas Kesehatan menyebut ada 17 warga yang positif. Semua dirawat di RSUD Dr. Moh. Anwar.

Data itu, setahu saya, diketahui oleh Dinas Kesehatan setelah seorang awak media membisikkannya di lantai dua kantor Pemkab. Lalu jadilah data itu sebagai pernyataan resmi Satgas Covid 19 Kabupaten. Seakan saja, pertama, Dinas terkait tidak memegang data pasti. Kedua, mungkin data asli sebenarnya ada. Tapi para pembesar menyepakati untuk tidak disebutkan semua. Mungkin kan? Data hanya boleh ada dari temuan wartawan saja. Lainnya tutuplah rapat-rapat saja.

Soal menggali data, mungkin pengalaman di tahun sebelumnya tidak akan jauh berbeda. Kawan-kawan di lapangan akan tetap kesulitan. Contoh lain, di hari yang sama, sebelum saya dan kawan-kawan bertemu Dinas Kesehatan, humas satgas Covid 19 Kabupaten belum tahu bahwa sudah ada belasan orang yang positif dan sedang dirawat intensif. Padahal belasan yang positif sudah terjadi sejak dua pekan terakhir. Nyaris amazing.

Seingat saya, sebelum beberapa menit kemudian kami bertemu Dinas Kesehatan, Humas Satgas Covid 19 mengatakan demikian: yang kami terima hanya data ratusan PMI yang tiba di Sumenep. Selain itu, dua kecamatan kembali zona kuning.

Dengan itu, jika diperkenankan, kami kawan-kawan di lapangan ingin menyampaikan beberapa usulan. Pertama, pastikan data Covid 19 jadi satu pintu, terpadu, dan terbuka untuk seluruh warga yang perlu. Kedua, buatlah formulasi yang humanis dan jitu agar pandemi ini tidak dianggap barang lucu. Jangan sampai orang awam dicap salah melulu. Padahal bisa jadi cara Satgas Covid 19 yang keliru.

Ketiga berilah contoh yang bisa ditiru. Bukan hanya mengandalkan himbauan namun ternyata prilaku pemangku kebijakan tak layak ditiru. Itu saja sementara dan mohon maaf jika catatan sederhana ini tak jadi panjang adanya.

Terakhir, semoga kita tetap sehat, baik dan selalu berusaha menahan diri untuk menyalahkan. Salam.

*NK Gapura, Sumenep, 5 Juni 2021. Penulis merupakan salah satu wartawan media ternama di Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *